Minggu, 25 September 2011

Loving a shit


            Dalam hati berkata iya, dalam hati selalu berharap bisa mengenal, dalam hati selalu berdoa agar dia juga mengingatku, dalam pikiran selalu membayangkannya, dalam pikiran selalu mencari cara agar bisa mendekatinya, dalam pikiran selalu ada banyak tanya tentangmu. Aku suka kamu, ku suka matamu, ku suka wajahmu, ku suka senyummu, tapi aku malu untuk mengatakannya. Bagaimana mungkin aku mengatakannya, orang tua kita saling mengenal, ortunya mengenalku sebagai anak yang baik, pintar, tidak banyak bicara, sopan, ramah, dan berjilbab (entahlah, apa itu benar atau tidak, tapi setidaknya itu sikap yang kutunjukkan pada orang tuanya). Jadi, apa aku harus bilang suka?, rasanya tidak mungkin. Lagipula baru berapa kali kami bertemu?. Never mind you’re still the best whether you have another else.
            Jujur, kalo aku suka sama seseorang, biasanya ga malu untuk menyapa, cenderung agresif (eits, jangan suudzon dulu), selalu berusaha mencari bahan pembicaraan agar bisa lebih mengenal dan lebih dekat, intinya, aku suka memulai komunikasi terlebih dahulu, sampai aku tahu bagaimana responnya terhadapku. Namun, untuk Adam yang satu ini akalku tenggelam tak berdasar. Dalam hati ingin menyapa, tapi bayangkan hanya untuk sekedar menyapa aku harus menghabiskan waktu berpikir bagaimana attitude yang sebaiknya kutunjukkan. Terdengar konyol ya, tapi ya itulah saat seseorang terserang virus yang sering terjadi pada usiaku.

Minggu, 11 September 2011

How could i make this feeling away?

“Malam sunyi kuimpikanmu
Kulukiskan kita bersama
Namun selalu aku bertanya
Adakah aku dimimpimu?
Dihatiku terukir namamu
Cinta rindu beradu satu
Namun selalu aku bertanya
Adakah aku dihatimu?”
Petikan lirik lagu milik Sherina yang berjudul Simfoni Hitam ini mengingatkanku pada keadaanku saat ini. Pertama kali dalam hidupku, aku suka seseorang dan aku tetap menyimpan rasa suka itu hingga menjadi cinta. Pertama kali pula dalam hidupku, aku mampu mempertahankan rasa ini bertahun-tahun tanpa dia tahu. Rumah kami saling berdekatan, aku disini dan kamu diseberang sana, kami hanya dipisahkan oleh jalan besar di depan Tugu Pahlawan. Aku sebenarnya tidak yakin apakah kami berjodoh atau tidak. Kami tidak bisa berjodoh kalo salah satu dari kami tidak berkehendak. Mungkin kalian akan berpikir bahwa how stupid I am, waiting and thinking of someone that I don’t know he would do the same or not. How fool I am, just thinking of this kind of sucks, whereas I don’t do yet what I must do for world. As you know, this is the first time I can’t say hi to people who I love.
Sometimes, I think how can i love you like that? Setiap tahun selalu menunggu Ramadhan disamping mencari pahala, mencari pembelajaran, aku menunggu saat tarawih tiba. Entahlah mungkin ini terdengar aneh (bukankah karena cinta seseorang juga rela mati? it’s weird, isn’t it?). Saat taraweh aku bisa bertemu denganmu walau hanya melihat saja dari balik papan. Usai itu, aku juga tetap bisa melihatmu menyeberang bersama keluargamu. Lalu setiap malam berdoa agar aku bisa melihatmu esok lagi. Namun, saat kamu tak datang aku selalu bertanya dalam hati, though your mom is beside me. Cerita-cerita tentangmu selalu sampai ditelingaku, tapi apakah cerita tentangku kamu dengar juga? Tak kau dengar tak apa asal kamu tahu siapa aku. Aku melihatmu saja sudah bahagia, don’t you feel what I feel? Don’t you look at me like I look at you?
I just wanna tell you something…
Actually, I have made some mistakes in the past because of that. I love people who has face and body language like him, so that’s why I have hurt some people who love me back sincerely. Ya, hanya karena dikendalikan oleh perasaan aku bisa melakukan perbuatan sekonyol itu. Maaf ya ikhwan-ikhwan yang pernah akrab denganku.