Minggu, 23 Oktober 2011

I got your name

Kamu memberiku satu hal. Hal yang kamu harap agar aku tetap bisa mencarimu. Aku tidak tahu apakah kamu memberinya karena ikhlas satu tujuan saja atau mungkin ada satu keinginan yang terselip jauh didasar lubuk hatimu. Aku hanya sekedar menghibur diri, barangkali saja kamu juga mengharapkannya. Mungkin kamu perlu tahu ini. Aku mencarimu dimana kebanyakan orang mencari apa yang mereka cari. Lama aku mencari dengan berbagai kata kunci. sudah tak terhitung lagi kata kunci apa saja yang aku masukan, aku lupa. Dan itu NIHIL. Nihil hasil yang kudapat hanya untuk tahu namamu. Aku bertanya pada orang-orang yang barang kali ada hubungan denganmu. Baiklah, mungkin aku berlebihan, tapi aku yakin, jika suatu saat kamu tahu aku seperti itu kamu pun akan berkata padaku bahwa ternyata kamu jauh lebih keras berusaha untuk mendapatkan namaku juga.
Kamu memberiku satu hal itu dengan mudahnya. Tak terpikir olehku bahwa kamu akan datang membawanya bukan karena inginku, tapi karenamu sendiri. Tawaku meledak begitu saja. Kamu berikan itu padaku sebagai awal langkahku mengenalmu. Brilliant, cara yang brilliant. Kemballi aku mencarimu ditempat orang-orang mencari apa yang mereka cari. Satu kunci untuk mengenalmu sedikit lebih dalam.

Jumat, 07 Oktober 2011

Whether you do


            I wonder whether you think of me. Selalu itu yang terbersit dalam benakku. Saat malam pun, saat orang-orang mulai menyemai indah bunga mimpi mereka, aku masih terjaga mengingat apa yang pernah kudengar dan kulihat darimu. Saat sepertiga malam, saat orang-orang beriman bangun mengambil wudhu untuk mengingat Allah dan memanjat do’a, aku terbangun dan lagi aku bertanya, apakah kamu terbangun dan berdo’a agar kita bisa bersama. Berdo’a untuk bisa bersama rasanya tidak mungkin, tapi berdo’a hanya untuk bisa berpapasan saja apa tidak mungkin juga?
            Aku mungkin tidak pantas jika memendam perasaan untuk orang yang jauh lebih baik dariku. Bukan aku pesimis, tapi aku tahu kamu, bagaimana kamu bekerja, bagaimana kelayakanmu mendapatkan pendidikan sekelas para jenius, bagaimana kamu memperlakukan orang tuamu, mungkin untuk hal remeh saja kamu tidak pernah meminta kepada orang tuamu. Lagipula, cinta datang karena terbiasa, bukan karena satu sama lain yang hanya sekali bertemu, lantas berspekulasi “apakah dia selalu memikirkanku seperti aku memikirkannya” dan atau “apakah dia berdo’a agar kami bisa hidup bersama seperti aku berdo’a untuknya”. Bukan seperti itu cara cinta bertumbuh. Aku mungkin bodoh ketika tahu dengan pasti aku takkan mungkin mengisi hari-harimu sedang kamu bersama dengan yang lain, dengan temanmu, dengan bosmu, dengan orang-orang yang menawarkan anak gadis mereka kepadamu karena mereka tahu kamu adalah emas, atau bahkan dengan seorang gadis, bukan itu, maksudku seorang wanita yang kamu bermimpi bisa hidup dengannya, menikah, memiliki anak, membesarkan bersama-sama, lantas melihat anak-anakmu sukses.
            Sebenarnya, aku salah jika aku menganggapmu tak peduli padaku, karena aku tidak tahu apa yang kamu pikirkan saat ini. Ketidaktahuanku ini sungguh menyiksa. Terkadang aku merasa bahwa kamu juga bersimpati terhadapku. Namun, di lain waktu aku menderita karena aku takut kamu telah memilih yang lain karena kamu juga tidak tahu apakah aku mencintaimu atau tidak. Sebenarnya ini tidak rumit, ortu kita saling mengenal walaupun hanya sebatas professionalisme organisasi, kita juga tidak tahu apakah hati mereka juga menginginkan kita bersama, kita bisa meminta mereka untuk menanyakan kabar kita masing-masing, hanya rasa ingin tahu yang belum terpenuhi ini amat menyiksaku. Aku tidak tahu apakah kamu mencintaiku atau tidak, kamu juga tidak tahu apakah aku mencintaimu atau tidak. Dan lagi aku harus menunggu untuk bisa melihatmu satu tahun lagi di bulan Ramadhan tahun depan.
            Sampai tulisan ini diposting ketidaktahuanku semakin hari semakin menjadi. Tapi, aku siap jika suatu saat nanti bukan aku yang harus mendampingi hidupmu. Kelak aku pun akan mendapatkan penggantimu walaupun aku tahu you’re irreplaceable.

Minggu, 25 September 2011

Loving a shit


            Dalam hati berkata iya, dalam hati selalu berharap bisa mengenal, dalam hati selalu berdoa agar dia juga mengingatku, dalam pikiran selalu membayangkannya, dalam pikiran selalu mencari cara agar bisa mendekatinya, dalam pikiran selalu ada banyak tanya tentangmu. Aku suka kamu, ku suka matamu, ku suka wajahmu, ku suka senyummu, tapi aku malu untuk mengatakannya. Bagaimana mungkin aku mengatakannya, orang tua kita saling mengenal, ortunya mengenalku sebagai anak yang baik, pintar, tidak banyak bicara, sopan, ramah, dan berjilbab (entahlah, apa itu benar atau tidak, tapi setidaknya itu sikap yang kutunjukkan pada orang tuanya). Jadi, apa aku harus bilang suka?, rasanya tidak mungkin. Lagipula baru berapa kali kami bertemu?. Never mind you’re still the best whether you have another else.
            Jujur, kalo aku suka sama seseorang, biasanya ga malu untuk menyapa, cenderung agresif (eits, jangan suudzon dulu), selalu berusaha mencari bahan pembicaraan agar bisa lebih mengenal dan lebih dekat, intinya, aku suka memulai komunikasi terlebih dahulu, sampai aku tahu bagaimana responnya terhadapku. Namun, untuk Adam yang satu ini akalku tenggelam tak berdasar. Dalam hati ingin menyapa, tapi bayangkan hanya untuk sekedar menyapa aku harus menghabiskan waktu berpikir bagaimana attitude yang sebaiknya kutunjukkan. Terdengar konyol ya, tapi ya itulah saat seseorang terserang virus yang sering terjadi pada usiaku.

Minggu, 11 September 2011

How could i make this feeling away?

“Malam sunyi kuimpikanmu
Kulukiskan kita bersama
Namun selalu aku bertanya
Adakah aku dimimpimu?
Dihatiku terukir namamu
Cinta rindu beradu satu
Namun selalu aku bertanya
Adakah aku dihatimu?”
Petikan lirik lagu milik Sherina yang berjudul Simfoni Hitam ini mengingatkanku pada keadaanku saat ini. Pertama kali dalam hidupku, aku suka seseorang dan aku tetap menyimpan rasa suka itu hingga menjadi cinta. Pertama kali pula dalam hidupku, aku mampu mempertahankan rasa ini bertahun-tahun tanpa dia tahu. Rumah kami saling berdekatan, aku disini dan kamu diseberang sana, kami hanya dipisahkan oleh jalan besar di depan Tugu Pahlawan. Aku sebenarnya tidak yakin apakah kami berjodoh atau tidak. Kami tidak bisa berjodoh kalo salah satu dari kami tidak berkehendak. Mungkin kalian akan berpikir bahwa how stupid I am, waiting and thinking of someone that I don’t know he would do the same or not. How fool I am, just thinking of this kind of sucks, whereas I don’t do yet what I must do for world. As you know, this is the first time I can’t say hi to people who I love.
Sometimes, I think how can i love you like that? Setiap tahun selalu menunggu Ramadhan disamping mencari pahala, mencari pembelajaran, aku menunggu saat tarawih tiba. Entahlah mungkin ini terdengar aneh (bukankah karena cinta seseorang juga rela mati? it’s weird, isn’t it?). Saat taraweh aku bisa bertemu denganmu walau hanya melihat saja dari balik papan. Usai itu, aku juga tetap bisa melihatmu menyeberang bersama keluargamu. Lalu setiap malam berdoa agar aku bisa melihatmu esok lagi. Namun, saat kamu tak datang aku selalu bertanya dalam hati, though your mom is beside me. Cerita-cerita tentangmu selalu sampai ditelingaku, tapi apakah cerita tentangku kamu dengar juga? Tak kau dengar tak apa asal kamu tahu siapa aku. Aku melihatmu saja sudah bahagia, don’t you feel what I feel? Don’t you look at me like I look at you?
I just wanna tell you something…
Actually, I have made some mistakes in the past because of that. I love people who has face and body language like him, so that’s why I have hurt some people who love me back sincerely. Ya, hanya karena dikendalikan oleh perasaan aku bisa melakukan perbuatan sekonyol itu. Maaf ya ikhwan-ikhwan yang pernah akrab denganku.