Jumat, 07 Oktober 2011

Whether you do


            I wonder whether you think of me. Selalu itu yang terbersit dalam benakku. Saat malam pun, saat orang-orang mulai menyemai indah bunga mimpi mereka, aku masih terjaga mengingat apa yang pernah kudengar dan kulihat darimu. Saat sepertiga malam, saat orang-orang beriman bangun mengambil wudhu untuk mengingat Allah dan memanjat do’a, aku terbangun dan lagi aku bertanya, apakah kamu terbangun dan berdo’a agar kita bisa bersama. Berdo’a untuk bisa bersama rasanya tidak mungkin, tapi berdo’a hanya untuk bisa berpapasan saja apa tidak mungkin juga?
            Aku mungkin tidak pantas jika memendam perasaan untuk orang yang jauh lebih baik dariku. Bukan aku pesimis, tapi aku tahu kamu, bagaimana kamu bekerja, bagaimana kelayakanmu mendapatkan pendidikan sekelas para jenius, bagaimana kamu memperlakukan orang tuamu, mungkin untuk hal remeh saja kamu tidak pernah meminta kepada orang tuamu. Lagipula, cinta datang karena terbiasa, bukan karena satu sama lain yang hanya sekali bertemu, lantas berspekulasi “apakah dia selalu memikirkanku seperti aku memikirkannya” dan atau “apakah dia berdo’a agar kami bisa hidup bersama seperti aku berdo’a untuknya”. Bukan seperti itu cara cinta bertumbuh. Aku mungkin bodoh ketika tahu dengan pasti aku takkan mungkin mengisi hari-harimu sedang kamu bersama dengan yang lain, dengan temanmu, dengan bosmu, dengan orang-orang yang menawarkan anak gadis mereka kepadamu karena mereka tahu kamu adalah emas, atau bahkan dengan seorang gadis, bukan itu, maksudku seorang wanita yang kamu bermimpi bisa hidup dengannya, menikah, memiliki anak, membesarkan bersama-sama, lantas melihat anak-anakmu sukses.
            Sebenarnya, aku salah jika aku menganggapmu tak peduli padaku, karena aku tidak tahu apa yang kamu pikirkan saat ini. Ketidaktahuanku ini sungguh menyiksa. Terkadang aku merasa bahwa kamu juga bersimpati terhadapku. Namun, di lain waktu aku menderita karena aku takut kamu telah memilih yang lain karena kamu juga tidak tahu apakah aku mencintaimu atau tidak. Sebenarnya ini tidak rumit, ortu kita saling mengenal walaupun hanya sebatas professionalisme organisasi, kita juga tidak tahu apakah hati mereka juga menginginkan kita bersama, kita bisa meminta mereka untuk menanyakan kabar kita masing-masing, hanya rasa ingin tahu yang belum terpenuhi ini amat menyiksaku. Aku tidak tahu apakah kamu mencintaiku atau tidak, kamu juga tidak tahu apakah aku mencintaimu atau tidak. Dan lagi aku harus menunggu untuk bisa melihatmu satu tahun lagi di bulan Ramadhan tahun depan.
            Sampai tulisan ini diposting ketidaktahuanku semakin hari semakin menjadi. Tapi, aku siap jika suatu saat nanti bukan aku yang harus mendampingi hidupmu. Kelak aku pun akan mendapatkan penggantimu walaupun aku tahu you’re irreplaceable.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar