I wonder whether you think of me. Selalu itu yang
terbersit dalam benakku. Saat malam pun, saat orang-orang mulai menyemai indah
bunga mimpi mereka, aku masih terjaga mengingat apa yang pernah kudengar dan
kulihat darimu. Saat sepertiga malam, saat orang-orang beriman bangun mengambil
wudhu untuk mengingat Allah dan memanjat do’a, aku terbangun dan lagi aku
bertanya, apakah kamu terbangun dan berdo’a agar kita bisa bersama. Berdo’a
untuk bisa bersama rasanya tidak mungkin, tapi berdo’a hanya untuk bisa
berpapasan saja apa tidak mungkin juga?
Aku mungkin tidak pantas jika memendam perasaan untuk
orang yang jauh lebih baik dariku. Bukan aku pesimis, tapi aku tahu kamu,
bagaimana kamu bekerja, bagaimana kelayakanmu mendapatkan pendidikan sekelas
para jenius, bagaimana kamu memperlakukan orang tuamu, mungkin untuk hal remeh
saja kamu tidak pernah meminta kepada orang tuamu. Lagipula, cinta datang
karena terbiasa, bukan karena satu sama lain yang hanya sekali bertemu, lantas
berspekulasi “apakah dia selalu memikirkanku seperti aku memikirkannya” dan
atau “apakah dia berdo’a agar kami bisa hidup bersama seperti aku berdo’a
untuknya”. Bukan seperti itu cara cinta bertumbuh. Aku mungkin bodoh ketika
tahu dengan pasti aku takkan mungkin mengisi hari-harimu sedang kamu bersama
dengan yang lain, dengan temanmu, dengan bosmu, dengan orang-orang yang
menawarkan anak gadis mereka kepadamu karena mereka tahu kamu adalah emas, atau
bahkan dengan seorang gadis, bukan itu, maksudku seorang wanita yang kamu
bermimpi bisa hidup dengannya, menikah, memiliki anak, membesarkan
bersama-sama, lantas melihat anak-anakmu sukses.
Sebenarnya, aku salah jika aku menganggapmu tak peduli
padaku, karena aku tidak tahu apa yang kamu pikirkan saat ini. Ketidaktahuanku
ini sungguh menyiksa. Terkadang aku merasa bahwa kamu juga bersimpati
terhadapku. Namun, di lain waktu aku menderita karena aku takut kamu telah
memilih yang lain karena kamu juga tidak tahu apakah aku mencintaimu atau
tidak. Sebenarnya ini tidak rumit, ortu kita saling mengenal walaupun hanya
sebatas professionalisme organisasi, kita juga tidak tahu apakah hati mereka
juga menginginkan kita bersama, kita bisa meminta mereka untuk menanyakan kabar
kita masing-masing, hanya rasa ingin tahu yang belum terpenuhi ini amat menyiksaku.
Aku tidak tahu apakah kamu mencintaiku atau tidak, kamu juga tidak tahu apakah
aku mencintaimu atau tidak. Dan lagi aku harus menunggu untuk bisa melihatmu
satu tahun lagi di bulan Ramadhan tahun depan.
Sampai tulisan ini diposting ketidaktahuanku semakin hari
semakin menjadi. Tapi, aku siap jika suatu saat nanti bukan aku yang harus
mendampingi hidupmu. Kelak aku pun akan mendapatkan penggantimu walaupun aku
tahu you’re irreplaceable.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar