Dalam hati berkata iya, dalam hati selalu berharap bisa
mengenal, dalam hati selalu berdoa agar dia juga mengingatku, dalam pikiran
selalu membayangkannya, dalam pikiran selalu mencari cara agar bisa
mendekatinya, dalam pikiran selalu ada banyak tanya tentangmu. Aku suka kamu,
ku suka matamu, ku suka wajahmu, ku suka senyummu, tapi aku malu untuk
mengatakannya. Bagaimana mungkin aku mengatakannya, orang tua kita saling
mengenal, ortunya mengenalku sebagai anak yang baik, pintar, tidak banyak
bicara, sopan, ramah, dan berjilbab (entahlah, apa itu benar atau tidak, tapi
setidaknya itu sikap yang kutunjukkan pada orang tuanya). Jadi, apa aku harus
bilang suka?, rasanya tidak mungkin. Lagipula baru berapa kali kami bertemu?.
Never mind you’re still the best whether you have another else.
Jujur, kalo aku suka sama seseorang, biasanya ga malu
untuk menyapa, cenderung agresif (eits, jangan suudzon dulu), selalu berusaha
mencari bahan pembicaraan agar bisa lebih mengenal dan lebih dekat, intinya,
aku suka memulai komunikasi terlebih dahulu, sampai aku tahu bagaimana
responnya terhadapku. Namun, untuk Adam yang satu ini akalku tenggelam tak
berdasar. Dalam hati ingin menyapa, tapi bayangkan hanya untuk sekedar menyapa
aku harus menghabiskan waktu berpikir bagaimana attitude yang sebaiknya kutunjukkan.
Terdengar konyol ya, tapi ya itulah saat seseorang terserang virus yang sering
terjadi pada usiaku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar